NIATNYA tidak sedikit pun tergoyahkan untuk meluncurkan produk itu dalam waktu dekat. “Orang-orang sok tahu itu jangan didengarkan,” kata Robert kepada para elit di perusahaannya. Kecuali Diana, semua mengangguk setuju.
Diana masih tidak setuju dengan keputusan perusahaan. Namun dia tidak bisa mengatakan apa pun sampai rapat dibubarkan. Robert mendatanginya dan memintanya untuk segera menyelesaikan rancangan itu. Diana sebenarnya sudah menyelesaikan rancangannya. Namun, kepala teknisi A&T ini ragu, ia memikirkan kembali permasalahan pelik yang mungkin akan disebabkan oleh ciptaannya. Karena itu Diana meminta atasannya agar bersabar. Robert tidak suka disuruh bersabar. Dia terus saja mendesak Diana untuk memberikan hasilnya, bagaimanapun.
“Tapi ini menyangkut masa depan umat manusia. Tidak ada jalan kembali jika produk ini diluncurkan,” kata Diana kepada atasannya itu. “Kita harus memikirkannya baik-baik.”
“Sekali lagi kukatakan padamu, kita tidak perlu melakukan itu. Kita biarkan pasar yang menentukan. Jika pasar menghendaki produk yang kita tawarkan, maka kita untung besar; jika tidak, kita akan rugi. Itu saja.”
“Tapi ini menyangkut nama perusahaan.”
Kali ini Diana sukses menarik perhatian Robert. Laki-laki itu diam sejenak. Wajahnya menyiratkan kalau ia sedang memikirkan sesuatu. Memang tidak ada yang lebih dipedulikan Robert daripada perusahaannya. Robert menghela napas panjang.
“Aku yakin itu tidak akan terjadi. Peluang kecelakaan sangat kecil. Nyaris nol, dan...” Robert memberi penekanan pada kata hubung, “jika kita tidak segera memproduksinya, akan ada orang lain yang melakukannya. Ini kompetisi Diana. Hidup melulu kompetisi. Siapa cepat, dia dapat. Siapa yang berlari paling depan adalah pemenangnya. Hidup selalu begitu, bukan?”
Kali ini giliran Diana yang diam. Rasa kemanusiaan yang melekat pada dirinya menjadi tembok penghalang meluncurkan patennya. Selain itu, ia takut ciptaannya akan bermasalah, dan ia akan mendapat tuntutan sosial,bahkan hukum, jika kecelakaan sampai benar terjadi. Hingga saat ini hasil kalkulasi tidak pernah berhasil membuat angka kecelakaan menjadi nol. Diana dan rekan-rekannya telah berhasil menyusun kecerdasan buatan yang akan meminimalisir kecelakaan hingga nyaris nol, namun kata “nyaris” yang muncul sebelum kata “nol” benar-benar mengganggunya.
Melihat Diana tidak menanggapi, Robert menambahkan, “Kau terlalu banyak memikirkan ramalan Pak Tua itu.”
“Itu bukan ramalan. Itu pertanyaan etik?” kata Diana.
“Kau itu teknisi. Tidak perlu mengurusi etik. Percayakan semua padaku,” kata Robert. “Aku yang akan bertanggung jawab jika sesuatu terjadi.”
***
Tiba di rumah, Diana kembali memikirkan program yang sedang ia kerjakan. Yang tersisa tinggal sentuhan akhir untuk memutuskan apa yang akan dilakukan jika mobil tanpa supir yang digerakkan oleh kecerdasan buatan itu dihadapkan pada dua pilihan: membunuh penumpangnya atau pejalan kaki yang tiba-tiba lewat. Sebenarnya skenario ini telah lama ditawarkan Pak Tua H.
BACA JUGA : Ruang
H dulu membayangkan suatu skenario yang melibatkan sebuah mobil tanpa sopir yang dikontrol oleh robot dengan pemilik yang sedang tertidur di bangku belakang dan seorang bocah yang tiba-tiba menyeberang jalan. Jalan itu memiliki jurang pada sisi kirinya, membuat robot harus memilih apakah ia akan meneruskan jalan dan menabrak si pejalan kaki, atau menghindar dan terpaksa menabrak pembatas jalan dan akhirnya meluncur ke jurang. Mana pun pilihan itu akan memakan korban.
“Ah, skenario itu terlalu mengada-ada. Kenapa pejalan kaki itu bisa sampai ada di sana?” tanya Robert yang tidak percaya pada skenario yang diperlihatkan Diana.
“Bisa jadi mereka anak-anak, Pak. Anak kecil tidak mampu ditebak. Mereka juga tidak kondisional dan tidak mampu mengendus bahaya. Bisa saja anak itu menyeberang karena saat ia sedang bermain bola di taman, bola miliknya tidak sengaja terlempar ke jalan.”
“Kalau begitu kita suruh saja orang-orang ini tidak membangun taman di dekat jurang.”
Diana tertawa kecil, lalu berkata, “Bapak mau mengontrol seluruh dunia? Mengontrol semua pembangunan mulai dari jalan raya, taman, gedung di kota-kota penjuru dunia? Kenapa tidak sekalian saja mengubah bentuk permukaan bumi, Pak?”
Pertanyaan Diana sukses membuat Robert mendengus kesal. Ia kesal bukan karena pertanyaan bawahannya itu terdengar kurang ajar, melainkan karena ia sadar kalau ia punya batasan kuasa. Terlepas dari modal besar yang dimiliki, ia tidak betul-betul menguasai seluruh dunia hingga semua hal bisa berjalan sesuai keinginannya.
“Lagi pula itu hanya satu skenario contoh. Skenarionya bisa saja berubah-ubah tergantung setting lokasinya. Bisa saja jalan itu berupa jalan dua arah di mana jika robot membanting setir menghindari pejalan kaki, ia akan menabrak mobil lain dan terjadi kecelakaan beruntun. Bisa juga ia terpaksa menabrak pembatas jalan atau bangunan lain. Intinya, menurut kalkulasi saya, kecelakaan tetap tidak terhindarkan,” kata Diana menambahkan.
Setelah perdebatan itu menemu jalan buntu, Robert akhirnya memaksa Diana untuk memilih mengorbankan anak itu daripada pemilik mobil. Ia bersikeras kalau pilihan itu yang paling tepat. “Tidak akan ada yang mau membeli mobil yang mengorbankan pemiliknya demi seorang bocah yang tidak dikenalnya? Manusia itu makhluk egois, Diana. Biarkan mereka tetap menjadi makhluk egois,” kata Robert. “Lagi pula salah sendiri kenapa orang tua anak bodoh itu luput dan membiarkan anaknya menyeberang jalan.”
Untuk yang satu itu, Diana sedikit setuju dengan Robert. Namun ia memikirkan kemungkinan lain. “Bagaimana jika setelah kita memilih membunuh anak itu, masyarakat malah mengutuk dan tidak mau membeli produk kita?”
“Berarti kita salah prediksi,” kata Robert menepuk pahanya sendiri. “Makanya kukatakan, kita serahkan semua pada mekanisme pasar.”
Ketika sedang mengingat-ingat perdebatannya dengan Robert beberapa minggu lalu, sebuah panggilan masuk dan membuyarkan lamunannya. Panggilan itu dari Yakob, kekasihnya. Setelah sedikit berbasa-basi menanyakan kabar, Yakob langsung masuk ke inti masalah, masalah yang kembali membuat Diana gelisah.
“Bagaimana keputusan Bosmu yang tak berperasaan itu?”
“Dia masih tetap dengan pilihannya.”
“Sudah didemo sekian rupa dia tidak menyerah juga. Kamu tinggalkan saja perusahaan itu. Bawa pergi patenmu.”
Diana tidak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang. “Bagaimanapun orang lain pasti akan melakukannya. Ini bukan sesuatu yang tidak mungkin dikerjakan orang lain. Tapi aku yakin, jika skenario itu sampai terjadi, milikku yang paling bisa meminimalisir kecelakaan. Aku punya tanggung jawab moral untuk memutuskannya.”
“Kamu terlalu banyak membaca ramalan Pak Tua itu. Hei kau dengarkan aku.” Nada bicara Yakob melembut, “Itu bukan tanggung jawabmu, Sayang. Kamu tidak perlu memikirkannya. Jika kecelakaan sampai terjadi, bukan disebabkan oleh rancanganmu, itu sudah bukan lagi urusanmu.”
Apa yang dikatakan Yakob dan Robert hari itu membuat Diana semakin dilema. Ia sampai tidak bisa tidur malam harinya. Semalaman ia tidak berhenti memikirkan langkah mana yang harus diambil. Jika mendengarkan kata-kata Yakob, maka ia harus meninggalkan perusahaan tempat ia bekerja. Perusahaan itu, bagaimanapun, telah menjadi bagian hidupnya. Jika menuruti kata-kata Robert, ia terpaksa menyerahkannya pada mekanisme pasar. Namun tetap saja ada rasa takut jika ia harus menyerahkan segalanya pada mekanisme pasar; ia tidak percaya masyarakat bisa memutuskan sendiri hal yang terbaik untuk mereka. Diana juga takut jika kecelakaan itu benar terjadi dan perusahaan tempat ia bekerja akan dituntut, hal itu akan berimbas pada hancurnya nama perusahaan. Jika itu sampai terjadi, ada ratusan ribu orang yang akan kehilangan pekerjaan. Mungkin akan mendapatkan didiskrimasi sosial. Jika benar begitu yang terjadi, karirnya juga sudah pasti akan tamat.
***
“Pilihanmu sudah tepat,” kata Robert.
Diana akhirnya memilih untuk melakukan apa yang Robert katakan. Bukan karena ia setuju dengan cara berpikir Robert, bukan pula karena ia percaya bahwa masyarakatnya mampu memutuskan sendiri apa yang terbaik buat mereka, melainkan karena ia tahu bahwa Yakob ternyata tidak benar-benar tulus kepadanya. Diana secara tidak sengaja menemukan sebuah kebenaran tentang Yakob. Sebenarnya lelaki itu tidak pernah benar-benar peduli pada Diana.
BACA JUGA : Yang Tidak Pernah Masuk Sistem
Ada alasan kenapa Yakob meminta Diana untuk keluar dari A&T dan membawa patennya; bukan karena ia benar peduli pada Diana yang mungkin akan disalahkan jika rancangannya bermasalah dan punya implikasi sosial bahkan hukum, bukan juga karena ia adalah aktivis kemanusiaan, melainkan karena ia dibayar oleh perusahaan saingan A&T yang berusaha mendapatkan rancangan Diana, atau jika ia tidak berhasil—setidaknya A&T tidak akan menggunakan algoritma Diana.
***
Enam bulan berlalu sejak mobil-mobil tanpa supir beredar di pasaran. Perdebatan etis yang tidak pernah selesai itu diselesaikan oleh para teknisi. Perusahaan tidak mampu bersabar lebih lama lagi. Lagi pula roda ekonomi menuntut perkembangan teknologi. Setelah sempat tertatih-tatih, roda ekonomi yang kemarin berputar lambat, kini melaju cepat. Mobil-mobil tanpa sopir kemudian diproduksi secara masif. Para pendemo yang dulu menuntut bahwa apa yang dilakukan A&T sebagai sebuah tindak kejahatan, kini ikut-ikutan membeli produk yang sebelumnya mereka haramkan beredar. Semua lancar-lancar saja sampai skenario Pak Tua H benar-benar terjadi. Seorang anak yang belum genap berusia empat tahun mati ditabrak ketika menyeberang jalan.
Kejadian itu terjadi di dekat sebuah taman bermain pada sore yang sebenarnya tidak begitu ramai. Saat itu angin terasa begitu menyejukkan hingga seorang pengasuh yang menemani anak itu bermain jadi mengantuk. Anak kecil itu bermain bola sepak di taman dengan riangnya. Ia berlari ke sana kemari, menendang sesuka hati, hingga tanpa sengaja bola yang ia tendang itu meluncur ke jalan. Lalu anak itu langsung saja berlari menyeberang jalan, dan pengasuhnya yang sudah separuh tidur terlambat menyadari. Karena badannya lemas, pengasuh itu tidak mampu menghentikan anak itu yang tiba-tiba sudah berada di tengah jalan. Saat itu lewatlah sebuah mobil tanpa sopir, melakukan apa yang telah diperintahkan padanya: ia menyelamatkan pemilik mobil dan mengorbankan si anak kecil. Mobil itu melaju tanpa rasa bersalah, melindas seorang bocah yang belum lama ini mampu mengucap kata ayah.
Kasus itu segera menjadi sorotan media. Semua sedih karena persentase yang sangat kecil, yang dianggap tidak mungkin terjadi itu, ternyata benar-benar terjadi. Perusahaan turut berduka, tetapi mereka tidak lagi takut dituntut. Masyarakat bersedih, tetapi dalam hati kecil mereka bersyukur karena ayah dari si anak adalah pemilik perusahaan A&T—Robert Tantular. Media menyoroti kasus ini, mencari-cari siapa yang patut disalahkan. Orang-orang beragama mengatakan kalau Robert kualat, dan ini adalah balasan dari upaya menjadi Tuhan. Para moralis menyebut ini sebagai karma. Kecuali Robert, istrinya, dan anak pertamanya, tidak ada ada yang benar-benar menangisi kejadian ini.
Diana mendatangi Robert untuk menyampaikan belasungkawa ketika perusahaan membuatkan upacara penghormatan terakhir untuk anak itu. Robert terlihat sangat terpukul. Meskipuk tidak seperti istrinya yang menangis tersaruk-saruk, ia duduk menyendiri di pojok ruangan, merenung meratapi nasib. Kecuali mengucapkan belasungkawa, tidak satu pun berani mengajaknya bicara. Tidak satu pun kecuali Diana. Bawahannya ini mendekatinya dan meminta maaf atas apa yang terjadi. Robert berkata bahwa semua ini bukan salah Diana. “Kamu telah melakukan apa yang kamu mampu, meminimalisir kecelakaan hingga nyaris seratus persen. Satu kesalahan ini tidak lain dan tidak bukan adalah takdir.”
“Takdir?” Diana terkejut dan mengulangi apa yang Robert katakan. Ia terkesima. Ia benar-benar tidak percaya pada telinganya. Ia menyangka telinganya baru saja berkhianat saat mendengar kata takdir terlontar keluar dari mulut Robert. Kata itu seharusnya tidak pernah muncul dari mulut Robert. Kata itu seharusnya tidak muncul dari siapa pun yang hidup di abad 21 ini.
BACA JUGA : Blok F
Kata itu seolah dipungut dari masa lalu yang teramat jauh—masa lalu yang mungkin hanya bisa diseberangi dengan mesin waktu, yang sayangnya sampai saat ini hanya menjadi imajinasi para penulis fiksi ilmiah—untuk memahami sesuatu yang tidak bisa dipahami manusia atau tidak diterimanya.
Akhirnya, Diana mengerti mengapa orang-orang seperti Robert tiba-tiba mendadak jadi pemeluk agama yang taat. Ketika pukulan hidup tidak mampu mereka terima, takdir adalah upaya untuk menyelamatkan diri—bahkan untuk orang sekeras dan sebatu Robert.
Saat itu Diana melihat Robert seperti seekor keong yang—ketika dunia berubah keras kepadanya—bersembunyi dalam cangkang bernama takdir. Setahunya, Robert adalah tipikal orang yang tidak mungkin percaya takdir, seperti juga dirinya. Ia yakin kalau ia mengetahui segala hal tentang atasannya itu. Namun ia keliru. Ia tidak benar-benar tahu segala hal tentang Robert. Diana tidak benar-benar tahu isi kepala atasannya itu.
Perempuan itu tidak tahu kalau apa yang Robert lakukan adalah sebuah kesengajaan. Robert sengaja mencampur obat tidur ringan dalam sebuah minuman pengasuhnya. Ia memang sudah berencana mengorbankan anaknya atas dasar sebuah kalkulasi: Robert telah menghitung kalau kejadian itu terjadi pada orang lain selain dirinya, opini publik atas produknya akan digiring untuk menghancurkannya oleh para saingan bisnisnya. Apa yang telah ia bangun dengan susah payah ini akan hancur. Ia tidak mau hal itu sampai terjadi.
Sekarang, bahkan jika kejadian itu menimpa orang lain, masyarakat pasti bisa menerima kalau semua ini adalah takdir, milik kekuatan yang lebih besar dari mereka. Lalu mereka akan terus membeli produk A&T. Toh, anak masih bisa dibuat lagi.
Aliurridha
*Pengajar di Universitas Terbuka. Ia menulis esai, puisi, dan cerpen. Karyanya tersebar di berbagai media. Cerpennya berjudul Metamorfosa Rosa masuk dalam antologi Cerpen Pilihan Kompas 2021. Ia bergiat di komunitas Akarpohon.
Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.